Hari itu senin 14 Desember 2009, langit cerah dan matahari bersinar terang. STKIP Cokroaminoto yang bertempat di kota Pinrang, provinsi Sulawesi Selatan berdiri dengan kokoh, meski dengan fasilitas seadanya namun mahasiswa cetakannya tetap memiliki kualitas yang setara dengan beberapa sekolah tinggi ternama.
Seperti biasa, dihari senin mahasiswa STKIP Cokroaminoto tidak masuk kuliah. Rudi adalah salah seorang mahasiswa STKIP Cokroaminoto berada di tempat nongkrongnya, yaitu tidak jauh dari rumahnya. “Rudi” sahut seseorang yang entah arahnya dari mana. Rudi yang merasa familiar dengan suara itu segera menoleh kesekelilingnya dan ternyata benar, yang menyahut itu adalah sahabat karibnya Ferdi. Rudi dan Ferdi adalah dua orang sahabat karib. Mereka selalu pergi kuliah sama-sama. “ maksud saya kemari, karena ingin menanyakan apakah tugas bidang studi Pengantar Pendidikan kamu sudah selesai ? ” tanya Ferdi setelah ia berada didepan Rudi. “ Belum ” jawab Rudi dengan singkat dan setengah cuek. Ferdi kemudian melanjutkan “ kalau gitu, gimana kalau kita kerjakan sama-sama, karena aku juga belum selesai “. “ Baik ” jawab Rudi, masih dengan nada suara yang sama. Dengan ekspresi raut muka yang khas dan setengah berbisik Ferdi berkata “ saya punya punya proyek “. Rudi yang telah mengetahui gelagat sahabatnya itu segera tau kalau yang dimaksud Ferdi dengan proyek adalah urusan cewek. Mendengar itu Rudi langsung menanggapinya dengan serius dan berkata “ sebaiknya kita kerumah untuk belajar sekaligus membicarakan proyek itu “. Mereka akhirnya kerumah Rudi. “ Saya punya kenalan gadis cantik “ kata Ferdi setelah berada di rumah Rudi “ . Dan saya ingin kerumahnya sebentar sore “ dia melanjutkan. “ Kamu mau ikut nggak? “. Dengan nada suara yang datar Rudi menjawab “ boleh “. “ ha..ha..ha..” Ferdi tertawa, kemudian berkata “ saya tau, kamu pasti tertarik dengan ini “.
Sorenya, mereka berdua pergi ke Jl. Monginsidi, tempat yang dimaksud oleh Ferdi. Kebetulan Dinda dan sepupunya Elisa sedang asik ngobrol di teras rumahnya, mereka nampak sangat gembira. Maklum, mereka berdua baru ketemu setelah satu tahun Elisa barada di perantauan. Namun melihat kedatangan Ferdi, Dinda segera mengajaknya gabung dan mempersilahkannya duduk. Ferdi yang sudah pacaran dengan Dinda langsung saja duduk disamping tempat duduknya Dinda. “gimana kabarnya sayang ? “ tanya Ferdi. Mendengar itu Dinda segera tau kalau yang diajak bicara Ferdi adalah dia “ alhamdulillah baik-baik aja “ jawab Dinda. “ Kenalkan ini teman saya Rudi “ kata Ferdi. Rudi kemudian berkenalan dengan Dinda dan Elisa. Sekarang mereka berempat terlibat pembicaraan yang menyenangkan. Ferdi yang sangat berpengalaman dalam menciptakan suasana menguntungkan segera memutar otaknya bagaimana caranya agar dia dan kekasihnya bisa bicara berdua tanpa diganggu orang lain. Akhirnya dia menemukan ide untuk menyingkirkan dua orang yang dianggapnya benalu. Dia lalu meminta Rudi untuk pergi membeli makanan ringan “ saya rasa kita perlu sedikit snak agar acara ngobrol ini tambah asik “ katanya dengan nada suara tanpa dosa. Rudi menurut saja apa kata Ferdi, dia kemudian permisi untuk membeli makanan ringan. Tiba-tiba “ ajak sepupu saya, sudah lama dia tidak jalan-jalan disini “ sahut Dinda yang nampaknya sudah tau dengan maksud Ferdi. Elisa pun menurut saja, dia pergi dibonceng sepeda motor oleh Rudi mencari makanan ringan.
Tidak terlalu jauh dari rumah Dinda, Rudi dan Elisa singgah di tempat penjual gorengan. Rudi kemudian pesan untuk dibungkus dan sebagian untuk dimakan disana. Gorengan yang sudah matang dihidangkan dan mereka berdua makan sambil ngobrol di tempat itu.
Siapa menyangka, ternyata diantara mereka tumbuh benih-benih cinta yang merekah dalam hati sanubari masing-masing. Namun Rudi agak malu untuk mengungkapkan perasaannya. Rudi kemudian memulai rayuannya yang sudah lama dikonsep dalam memorinya. “ kamu cantik sekali “ katanya pada Elisa. Mendengar itu Elisa tersipu malu karena bercampur antara rasa gembira dan rasa malu yang menguasai dirinya. Dia tidak mampu berkata apa-apa kecuali cuma tersenyum. Sesungguhnya Elisa pun menyukai Rudi, namun sebagai seorang wanita tentu saja dia berusaha menyembunyikan perasaannya.
Meskipun Rudi tergolong orang yang sudah berpengalaman dalam menghadapi situasi seperti itu, namun kali ini dia merasa benar-benar dihinggapi rasa malu. Malu mengungkap perasaannya. Dengan terus berusaha mengumpulkan keberanian ditambah dengan hasrat yang tidak terbendung lagi, akhirnya dia mengungkapkan juga perasaannya. “ saya mencintai kamu “ katanya pada Elisa. Lagi-lagi Elisa tidak dapat menguasai perasaannya, dia tersipu malu lalu berkata dengan suara yang berat “ jangan bohong “. Melihat ekspresi itu, Rudi sudah tau, kalau sesungguhnya Elisa pun menyukainya. “ saya tidak bohong, saya benar-benar mencintai kamu dan kamu orang pertama yang menggetarkan hatiku seperti ini “ , tangannya perlahan-lahan menggenggam tangan Elisa, dan Elisa tak mampu menyembunyikan lagi perasaannya. Dia akhirnya mengakui bahwa dia pun mecintai Rudi. Begitulah kisah berawal, sebuah kisah cinta dua anak manusia yang dimabuk asmara.
Hari-hari mereka lalui bersama dengan bahagia. Rudi dan Elisa semakin saling mencintai, perasaan cinta diantara mereka semakin mekar hingga seakan-akan tidak ingin dipisahkan. Tak terasa seminggu telah berlalu, Elisa menyampaikan kepada Rudi bahwa dia harus kembali ke perantauan karena alasan yang sangat penting, namun ia tidak menjelaskan secara detail tentang alasannya itu. Mengetahui bahwa dirinya akan berpisah dengan kekasih hatinya, Rudi merasa agak sedih. Namun itu tidak melemahkan semangatnya untuk terus melanjutkan hubungan cintanya. Dia tidak ingin memikirkan perpisahan itu. Namun setiap kali angannya melayang dengan kebahagiaannya bersama Elisa, dia selalu diusik dengan perpisahan itu. Setiap kali ia ingin rebah di pembaringan, dia lagi-lagi ingat bahwa dirinya akan ditinggalkan, hal itu pun membuat makannya jadi kurang lahap.
Rudi sangat takut akan datangnya hari itu, namun takdir tak dapat di ubah. Akhirnya hari perpisahan itu datang juga. “ say….., kapalku berangkat sebentar sore, temui aku dipelabuhan yahh…. “ begitu pinta Elisa dengan sangat manja lewat sambungan telepon kepada Rudi. “ iya sayang, aku pasti akan datang “ jawab Rudi dengan sangat yakin. “ oh ya.., kapal kamu berangkat jam berapa sayang..? “ tanya Rudi. “ jam 5 say.., jangan lupa ya…” . “ beresssss..” jawab Rudi. Mengetahui bahwa Rudi akan datang, perasaan Elisa pun menjadi tenang dan ia menutup teleponnya.
Karena semalam Rudi begadang dengan teman-teman nongkrongnya, akhirnya hari itu dia sangat mengantuk. Pada saat rasa kantuknya tak tertahan lagi, dia pun tertidur lelap dalam kamarnya. Ketika dia terbangun dari tidurnya, dia langsung ingat akan janjinya untuk menemui kekasihnya di pelabuhan. “ waduh..celaka..” gumamnya. Dia langsung melihat jam dinding yang berdetak diatas kepalanya, dan waktu menunjukkan pukul 4 lewat 5 menit. Dia lansung mengenakan jeans dan menyambar bajunya yang masih tergantung di dinding kamarnya dan berkelebat pergi sambil mengenakan baju itu. “ parah….” katanya dalam hati, “ kemana semua sepeda motor yang ada disini “ gumamnya setelah menatap ke kolom rumahnya namun dia tak menemukan sepeda motornya. Dia hampir putus asa, namun tiba-tiba dia tersenyum tipis penuh misteri. “ hah…… betul “ gumamnya lagi. “ tak ada rotan akar pun jadi, begitu peribahasanya “. Nampaknya dia ingat pada sepeda motor bututnya yang tersimpan di gudang.
Tanpa banyak basa-basi dia segera mengeluarkan sepeda motor butut itu, lalu dia melihat jamnya, “ wah.., sudah setengah lima “. Tanpa berkata apa-apa lagi dia langsung tancap gas menuju ke pelabuhan cappa’ujung kota Pare-pare. Motor itu membuatnya melaju dengan kecepatan 80 km/jam. Sungguh naas nasib Rudi, motor butut yang di kendarainya itu mengalami Crash ( mesinnya hangus terbakar karena panas ) tepat di daerah labili-bili. Harapannya untuk bertemu dengan Elisa benar-benar telah hampir pupus. Namun bukan Rudi namanya jika tidak mampu mengatasi hambatan, dengan prinsipnya ‘ tak ada rotan akar pun jadi’ ia menemukan jalan keluar. Dia memutuskan untuk naik ojek menuju pelabuhan.
Dengan segala rintangan yang dialaminya itu ia akhirnya berhasil tiba di gerbang pelabuhan cappa’ujung. Dengan tujuan ingin membuktikan besarnya perasaan cintanya kepada Elisa, sekaligus menatap wajah cantiknya untuk terakhir kali sebelum berpisah dengannya. “ iya, betul… sebaiknya aku telepon Elisa dulu “ dengan maksud ingin menelepon Elisa, Rudi merogoh saku celananya. “ waduh…, aku benar-benar sial “ katanya. Rupanya yang dia pakai, yang disangkanya jeans ternyata cuma celana pendek dengan motiv kotak-kotak. Ternyata HP nya ikut tertinggal di saku celana jeans yang tertinggal di rumahnya.
Tanpa berfikir apa-apa lagi dia langsung menyerobot masuk pelabuhan. Setelah melewati penjaga pintu tapi dia tidak dimintai karcis masuk, dia merasa bangga karena berfikir bahwa dia sudah mengelabui penjaga gerbang. Dengan tenaga yang tersisa dia berlari menuju ke tepi dermaga, dia sudah membayangkan Elisa tersenyum menyambut kedatangannya. Tapi apa yang terjadi, sesampainya di tepi dermaga, bukan kapal yang dia temui, namun yang dia dapati tinggal tumpukan botol aqua yang telah kosong bertebaran di tepian pantai. Sesekali botol itu menghantam tepi dermaga karena dihempas ombak, membuatnya mengeluarkan suara khas pelabuhan cappa’ujung. Semua suara-suara itu cuma menambah kepedihan hati Rudi. Kini hancur luluh hati Rudi, ia berdiri ditepian pantai dengan pandangan yang kosong kerontang tanpa makna. Bibirnya yang dulu ringan untuk tersenyum kini menjadi kaku. Dinginnya udara cappa’ujung kini terasa menyayat-nyayat hatinya. Rudi seakan ingin berteriak dan menengadah kelangit karena tidak sanggup menerima kenyataan itu. Rudi merasakan pipinya sejuk, ternyata airmatanya telah mengucur tak tertahankan lagi. Perasaannya sudah kacau, berbaur antara rasa sedih ditinggal pujaan hatinya, dengan rasa bersalah karena tak mampu membuktikan bahwa ia akan menepati janjinya. Rudi melihat jamnya, waktu sudah menunjukkan hampir jam enam. Pantas di gerbang dia tidak dimintai karcis, rupanya penjaga pelabuhan sudah pulang.
Dengan berat hati Rudi mencoba untuk mengumpulkan puing-puing kehancuran hatinya, dan dengan sisa tenaganya dia mencoba melangkahkan kakinya untuk pulang kerumah. Tentu saja dia merasa malu untuk pulang sambil menangis. Maka ia berusaha untuk meredakan tangisannya dulu, kemudian mengusap airmata yang membasahi pipinya. Namun setiap kali ia mengusapnya, airmata itu kembali mengguyur tak tertahan. Akhirnya setelah berusaha selama 5 jam, ia berhasil meredakan tangisannya dan segera bergegas pulang.
Sesampainya dirumah, Rudi kini terbaring lesu tak berdaya menahan sedih. Dia merogoh saku jeansnya untuk mengambil HP yang tadinya tertinggal. Airmatanya kembali mengucur deras, kali ini sudah seperti hujan yang disertai petir. Luka dalam hatinya yang memang sudah menganga kini kembali seperti di koyak-koyak, setelah dia dapati 159 panggilan tak terjawab dari Elisa. Pada saat Elisa berusaha menghubunginya, Elisa mendapat sms dari nomor tak dikenal yang mengatakan agar ia tidak usah menunggu Rudi karena saat ini Rudi sedang bercinta dengan gadis lain. Karena itu Elisa memutuskan untuk berhenti meneleponnya pada saat yang ke 159 kali. Elisa dengan rasa kecewa kepada Rudi karena termakan fitnah, melemparkan HP nya ke laut. Rudi yang mendapati 159 panggilan tak terjawab itu berusaha meneleponnya kembali, tapi nomornya sudah tidak aktif.
Selesai
Ucapan terimakasih kepada teman-teman yang membantu dan mengilhami saya dalam menyelesaikan cerpen ini :
1.Awaluddin
2.Rita
3.Samsuddin
4.Samsinar
5.Ayyub
6.Iwan
7.Dan semua pihak yang turut berkontribusi.
Ditulis oleh leopark62 